Sukses Vaksinasi 70 Persen, Ahli ini Sebut Bali bisa Buka Pariwisata

20/06/2021 10:48
Ahli virologi dari Universitas Udayana Prof Dr I Gusti Ngurah Kade Mahardika
banner-single

DENPASAR Jurnalbali.com

Untuk membuka pariwisata Bali selama masa pandemi Covid-19 ini, Bali harus bisa melaksanakan vaksinasi hingga 70 persen dari angka penduduk Bali. Hal itu dikatakan ahli virologi dari Universitas Udayana Prof Dr I Gusti Ngurah Kade Mahardika saat bincqng santai di Kubu Kopi, Minggu (20/6/2021).

“Vaksinasi 70 persen itu tentu untuk kelompok berisiko, yang berusia 18 tahun atas. Tidak hanya bagi lansia, namun juga diprioritaskan bagi mereka yang masuk kelompok sosial aktif seperti mahasiswa dan anak-anak SMA,” katanya kepada awak media, Minggu (20/6/2021).

Mahardika menyebut, jika pelaksanaan vaksinasi sudah mencapai 70 persen kasus baru Covid-19 akan melandai sehingga akan memberi kenyamanan bagi masyarakat setempat dan juga wisatawan yang datang, dan membuat kepercayaan wisatawan asing berani satang ke Bali.

“Di Inggris, cakupan vaksinasi mencapai 50 persen, mereka sementara ini sudah berhasil mengendalikan kasus. Dari yang sebelumnya hingga 70 ribu kasus per hari pada Januari, kini menjadi sekitar 2.000-3.000 kasus per hari,”  ujar dia.

Menurutnya, Bali sudah harus harus mempercepat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk dosis kedua hingga mencapai lebih dari 50 persen. “Baru nanti akan terlihat dampak dari vaksinasi tersebut,” tuturnya.

Untuk diketahui, hingga Jumat (18/6/2021), masyarakat Bali yang sudah mendapatkan vaksin untuk dosis pertama sebanyak 1.874.213 orang dan vaksin untuk dosis kedua sebanyak 706.089 orang.

Dengan menargetkan biaa melakukan vaksinasinasi pada 3 juta orang untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity) 70 persen dari total populasi masyarakat Bali yang berjumlah sekitar 4,3 juta jiwa. “Wisatawan ketika masuk ke Bali pun harus difilter dengan uji swab PCR. Tidak bisa ditawar-tawar hanya menggunakan rapid antibodi, rapid antigen ataupun Genose karena itu banyak bolong-bolongnya atau sensitivitasnya hanya sekitar 75-80 persen sehingga penanganannya menjadi tidak maksimal,” katanya.

Baca Juga :   Prim Haryadi Jelaskan Penerapan Keadilan Restoratif

Ia berharap, pemerintah daerah lebih menggencarkan ULI (uji, lacak dan isolasi) untuk menekan penyebaran Covid-19 di Bali. “Fluktuasi kasus baru COVID-19 masih sering terjadi karena ULI tidak pernah dilakukan dengan cara intensif akibat berbagai keterbatasan yang terjadi di lapangan,” tuturnya. (*/Div)

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya