Dari Bali Mencuat Usulan Agar Setiap Mahasiswa Pertanian Unika St. Paulus Miliki Petani Binaan

09/06/2023 12:23
Array
Emanuel Dewata Oja (paling kiri) dan Kepala Desa Gara Kecamatan Satar Mese Tengah, Yohanes Mario Nombo (dua dari kiri) serta beberapa mahasiswa Manggarai saat diskusi santai di Warung Pica, Kompleks Kuliner Pojok Sudirman Denpasar, Kamis 8 Juni 2023. (Foto/RESTIN)
banner-single

DENPASAR, Jurnalbali.com –

Sebuah diskusi kecil antara Kepala Desa Gara Kecamatan Satar Mese Tengah, Kabupaten Manggarai, Yohanes Mario Nombo dengan salah seorang wartawan senior asal Manggarai yang berdomisili di Denpasar Bali, Emanuel Dewata Oja berlangsung hangat kekeluargaan dan menghasilkan beberapa gagasan untuk kemajuan pembangunan masyarakat Manggarai.

————-

Diskusi yang berlangsung di Warung Pica, Kompleks Kuliner Pojok Sudirman Denpasar pada Kamis (08/6/2023) tersebut turut dihadiri beberapa mahasiswa yang masih kuliah di Denpasar. Hadir juga dua pengurus Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Denpasar Santo Paulus yakni Maria Restiana Nuheng yang kini menjabat Sekretaris Jenderal PMKRI Denpasar dan Angela Cinly Yudia, Presidium Hubungan Perguruan Tinggi PMKRI Denpasar periode 2021-2022.

Dalam kesempatan tersebut, Emanuel Dewata Oja, yang pernah menjabat Ketua PMKRI Denpasar belasan tahun lalu, dan kini menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI Denpasar mengatakan, mayoritas masyarakat Manggarai, baik Manggarai induk, Manggarai Timur dan manggarai Barat adalah petani.

Dikatakan, tiga kabupaten pemekaran Manggarai tersebut masing-masing punya ahan pertanian yang tidak sedikit, dan mudah disuburkan dengan teknologi-teknologi karena secara alami, lahan-lahan yang dimiliki adalah lahan-lahan subur. Namun hingga kini pemanfaatannya belum maksimal sehingga pertanian Manggarai belum menghasilkan komoditas yang bernilai bisnis.

‘Saya, walaupun ada di Denpasar sudah puluhan tahun, tetapi masih sering pulang ke manggarai. Makanya saya masih bisa mengikuti perkembangan-perkembangan pembangunan di Manggarai, khususnya bidang pertanian. Secara umum saya melihat bahwa corak pertanian kita di sana masih mayoritas pertanian konsumtif,’ ujar pria yang akrab disapa Edo atau Eman Oja ini.

Adapun pertanian konsumtif yang dimaksud pria berdarah campuran Manggarai dan Manggarai Barat ini adalah tentang kenyataan bahwa di manggarai, setiap orang punya lahan untuk bercocok tanam. Namun sebahagian besar orang Manggarai berkebun hanya untuk kebutuhan sendiri.

Baca Juga :   Sinergi Kembali, Polda Bali dan SMSI Bali Gelar Diskusi Temu Netizen

‘Tanam jagung ya untuk makan sendiri. Kerja sawah ya untuk makan sendiri, begitu juga tanaman pangan lainnya. Sedikit sekali masyarakat Manggarai yang bercocok tanam dengan orientasi ekonomis. Tidak banyak orang berkebun atau garap sawah agar hasilnya dijual sehingga punya nilai ekonomis,’ ujarnya.

Pria yang kini juga adalah asesor (penguji) nasional untuk wartawan se-Indonesia ini lantas memaparkan bahwa ia sadari kondisi tersebut terjadi karena lemahnya kemampuan SDM petani, sehingga sulit untuk membuka wawasan bisnis.

Karena itu kata dia, Universitas Katolik (Unika) Santo Paulus di Ruteng yang memiliki Fakultas Pertanian harus berani ambil terobosan dengan memodifikasi kurikulum dengan muatan lokal yaitu mewajibkan seluruh mahasiswa Fakultas Pertanian yang sudah menginjak Smester VI, untuk mempunyai 1 atau 2 orang petani binaan.

“Ini harus masuk kurikulum muatan lokal. Misalnya untuk pendampingan petani dimasukan kedalam nilai kredit smester. Ya, saya kira 3 atau 4 SKS. Dengan masuk kurikulum maka ada jaminan bahwa mahasiswa fakultas Pertanian yang punya petani binaan tersebut akan serius melaksanakan tugasnya karena akan diakumulasi sebagai nilai mata kuliah yang ditempuh,’ ujarnya.    

Sementara itu, Kepala Desa Gara Kecamatan Satar Mese Tengah, Yohanes Mario Nombo mengakui, sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan dalam usaha pemberdayaan masyarakat desa di Manggarai. Mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan lain-lain.

Ditegaskannya menggerakkan pembangunan Manggarai yang berbasis pertanian memang tidak semudah yang dipikirkan banya orang. Tak semudah membalik telapak tangan. Namun, perubahan yang digerakkan tersebut adalah pilihan mutlak. Semuanya harus dimulai dari masyarakat desa.

Dijelaskannya, apabila pemerintah dalam hal ini Kepala Desa tidak mampu berinovasi dan menciptakan program-program yang berpengaruh signifikan terhadap kemajuan ekonomi masyarakat, maka yang terjadi adalah kebingungan. Anggaran Desa yang cukup besar dikucurkan setiap tahun pada akhirnya mubazir atau malah bisa disalahgunakan karena ketidakmampuan pemimpin desa dalam mengola dana tersebut.

Baca Juga :   Wagub Cok Ace Siap Berjuang Hapus Regulasi Penghambat Wisatawan Masuk Bali

“Untuk membangun sebuah desa patokan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat adalah bumdes, jadi badan usaha milik desa inilah yang mampu menggerakan ekonomi masyarakat. Tetapi untuk saat ini saya dihadapkan dengan kondisi ril bahwa yang terjadi di masyarakat adalah bumdes tidak berjalan dengan baik. Manajemennya kurang, hanya sekedar nama saja” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Rino, yang juga alumi PMKRI Cabang Ruteng ini telah melakukan beberapa program terobosan. Ia membuka pabrik tempe di desanya, untuk pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga dan gadis-gadis yang usia kerja yang belum mempunyai pekerjaan tetap sebagai penghasilan rutin bulanan.

Membuka pabrik tempe dan beberapa program terobosan lain seperti membuat minuman sereal lokal hingga kelompok-kelompok peternak adalah sebuah program yang dicanangkan oleh Kepala Desa Rino, sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan ekonomi dan mengembangkan kreatifitas masyarakat.

Hal ini tentu saja untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat Desa. Namun ia juga mengakui, tidak bisa dipungkiri masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya ada banyak hambatan yang dihadapi. Masalah paling mendasar adalah aksesibilitas atau ketersediaan infrastruktur dan teknologi sederhana sebagai penujang untuk kenyamanan pemasaran produk-produk yang dihasilkan. 

Penulis||Maria Restyn||Editor|| Edo

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya