Alih Fungsi Lahan di Bali Capai 1000 Ha Setiap Tahun

15/10/2022 05:03
Wakil Gubernur Bali, Tjok. Oka Sukawati meninjau pameran hasil pertanian Bali usaia menjadi keynote speaker dalam seminar nasional Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, Jumat, 14 Oktober 2022 di Gedung Pasca Sarjana UNUD. (FOTO/Rls)
banner-single

DENPASAR,Jurnalbali.com – Pesatnya pembangunan fisik di Bali, terutama pembangunan sarana dan prasarana pariwisata, berimbas pada semakin berkurangnya lahan pertanian. Dalam setiap tahun tercatat 1000 ha lahan pertanian di Bali beralih fungsi, dari lahan pertanian menjadi lahan pemukiman, lahan usaha dan lain-lain. Namun Wakil Gubernur Bali, Tjok. Oka Sukawati tetap mengimbau masyarakat terutama generasi muda untuk tidak meninggalkan profesi bertani. Hal yang perlu dilakukan adalah mengubah stigma negatif tentang profesi bertani, agar pertanian Bali jadi lebih maju.

—-

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Bali, Tjok. Oka Sukawati saat menjadi keynote speaker dalam seminar nasional Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, Jumat (Sukra Pon Dukut) 14 Oktober 2022 bertempat di Gedung Pasca Sarjana UNUD.

“Tidak hanya masyarakat kampus, namun perhatian mengenai pertanian dan ketahanan pangan ini juga harus diupayakan oleh semua pihak termasuk pemerintah”, ungkapnya.

Dengan jumlah lahan pertanian di Bali yang sangat terbatas terlebih lagi dengan adanya alih fungsi lahan yang tinggi mencapai lebih dari 1000 ha per tahun menurut Cok Ace hal ini akan menimbulkan beberapa potensi permasalahan antara lain; pertama keterbatasan lahan, kedua peningkatan jumlah penduduk yang dapat menyebabkan keterbatasan pangan dan yang ketiga adalah kecilnya minat generasi muda pada sektor pertanian.

“Walaupun Bali saat ini masih surplus pangan namun dengan adanya kebijakan pemerintah untuk terus menggenjot jumlah wisatawan ke Bali, hal ini perlu menjadi perhatian karena tentunya kebutuhan pangan pun akan bertambah,” ungkapnya.

Cok Ace menyampaikan bahwa terdapat stigma-stigma negatif yang masih sangat melekat di masyarakat terkait sektor pertanian yaitu stigma di masyarakat yang berpandangan bahwa profesi pertanian itu identik dengan pekerjaan kotor dan berlumpur di samping juga pertanian masih diidentikkan sebagai simbol keterbelakangan karena dianggap sebagai pekerjaan kasar yang tidak memerlukan pendidikan dan keterampilan.

Baca Juga :   Merebak Isu Korban Meninggal Setelah Vaksin, Kadis Kominfos Ingatkan Media

Stigma-stigma tersebut harus diubah. “Ubah Stigma negatif tersebut melalui penerapan teknologi pertanian sehingga bertani akan dianggap keren oleh generasi muda,” ujar Cok Ace yang juga merupakan Guru Besar di ISI Denpasar tersebut.

Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Bali sendiri sangat konsen mengenai permasalahan ketahanan dan kemandirian pangan khususnya di daerah Bali. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh Pemprov Bali.
Antara lain penyeimbangan supply dan demand, mengupayakan pengendalian alih fungsi lahan pertanian, penggalian sumber pangan alternatif sesuai potensi wilayah, melakukan promosi penggunaan produk hasil pertanian lokal, penggunaan produk pertanian lokal Bali untuk industri perhotelan dan restoran serta pengembangan sistem pertanian organik.

Disamping itu Cok Ace berpesan kepada peserta seminar dan seluruh perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi di Bali yang memiliki bidang ilmu pertanian atau pangan untuk melakukan upaya-upaya penyiapan sumber daya manusia pertanian dan pangan yang berkualitas dengan basis keahlian dan pemanfaatan teknologi inovasi untuk mewujudkan upaya ketahanan pangan di Bali.

Seminar Nasional yang mengusung tema ‘Inovasi Teknologi Pertanian dalam Mewujudkan Kemandirian Pangan Nasional yang Berkelanjutan di Era Society 5.0’ tersebut juga dimeriahkan dengan pameran produk inovasi yang dibuka oleh Wakil Gubernur Bali didampingi oleh Rektor Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Gde Antara dan Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Prof. I Made Anom Sutrisna Wijaya. (*/W-49/Rls)

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya