Bawah Laut Indonesia Simpan Banyak Kekayaan, Ini Kata Kasal TNI Laksamana Yudo Margono

24/08/2022 02:33
KKepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Yudo Margono saat menyampaikan penjelasan kepada Pers. (FOTO/BK)
banner-single

NUSA DUA, Jurnalbali.com – Wilayah perairan bawah laut Indonesia ternyata banyak memiliki kekayaan sumber daya alam yang bernilai. Terdapat belasan gunung bawah laut yang diperkirakan mengandung banyak kekayaan, entah berupa gas alam , emas dan lain-lain yang belum dieksplorasi.

———————————————————————-

Hal itu terkuak dari hasil Ekspedisi Jala Citra 1 – 2021 “Aurora” di Perairan Laut Halmahera, sebagai salah satu contoh yang dapat ditemukan di wilayah perairan bawah laut lainnya.

Dan hasil ekspedisi tersebut dituangkan kedalam sebuah buku berjudul ‘Menguak Kekayaan Bawah Laut Indonesia’ yang disusun oleh Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut.

“Jadi ini (hasil ekspedisi Jala Citra I) bukan rahasia. Saya rasa ini terbuka untuk masyarakat. Kita sudah ada bukunya berjudul Menguak Kekayaan Bawah Laut Indonesia, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas PT Kompas Media Nusantara yang memiliki 232 halaman dan dapat di beli di toko buku Gramedia terdekat, ” ujar Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, Selasa 23 Agustus 2022 usai membuka pertemuan International North Indian Ocean Hydrographic Commission (NIOHC) ke-21 di Nusa Dua.

Komandan Pushidrosal, Laksamana Madya TNI Nurhidayat menyampaikan bahwa pada ekspedisi Jala Citra 1 di Selat Manipa menemukan 10 gunung api bawah laut dan ada di dalam buku ini.

Dari sepuluh gunung api bawah laut yang bisa diterima oleh UNESCO ada delapan dan dua dalam proses penelitian lebih lanjut.

Karena baru delapan yang diterima UNESCO, pihaknya akan melakukan Eskpedisi Jalacitra II “Banda”.

“Yang sudah bisa diterima oleh UNESCO itu ada delapan, yang dua itu tinggal sedikit lagi. Jadi nanti akan ada kapal yang kesana untuk melengkapi data itu dan kita bisa memberikan data itu. Dan kenapa judulnya dibuat menguak kekayaan bawah laut Indonesia? Ternyata orang Ambon sendiri tidak ngerti kalau di depannya sendiri banyak gunung,” kata Laksda TNI Nurhidayat.

Baca Juga :   Gubernur Koster Ajak Media Berikan Informasi Postif Kepada Masyarakat

Menurutnya kalau banyak gunung api berarti banyak sesuatu yang tersimpan disana, bahkan Menteri ESDM sendiri menyatakan kalau disitu ada gunung kemudian disekitarnya ada lembahnya kemungkinan besar disitu juga ada minyak, ada emas dan lain-lain.

Itu yang artinya kita buat judul ‘Menguak Kekayaan Bawah Laut Indonesia’ dan sekarang kita melakukan ekspedisi yang kedua di Laut Banda.

Hasil sementara ekspedisi kedua itu ketemu ada enam gunung api bawah laut, dan kedalamannya waktu ditemukan oleh Belanda belum diketahui tapi sekarang kita ketahui dari hasil ekspedisi Jala Citra II besarnya itu tiga kali lipat gunung Semeru.

“Jadi kalau gunung Semeru lebarnya 6 kilometer ini yang kita temukan di bawah laut lebarnya itu lebarnya 17 kilometer tingginya sama sekitar 3.400an. Jadi itu potensi kekayaan alam yang ada di dasar laut. Mungkin yang lain kita belum ketemu karena memang ekspedisi ini sangat rigit dan membutuhkan waktu sampai 60 hari. Jadi kita bergantian terus untuk bisa melaksanakan ini,” paparnya.

Laksda TNI Nurhidayat menambahkan dari hasil ekspedisi Jala Citra 1″Aurora” dilakukan pengambilan sampel, kemudian sampel itu kita serahkan ke Kementerian ESDM dan hasilnya seperti contoh di kedalaman ini ada ini.
Ekspedisi Aurora 2021 merupakan bagian dari kegiatan Hari Hidrografi Dunia yang bertema “100 Tahun Sama Hidrografi Internasional”.

Menggunakan Kapal Survei KRI Spica-934 yang memiliki 40 personel, ekspedisi Aurora 2021 terdiri dari beberapa penelitian ini dilaksanakan pada 3 Agustus sampai 12 Oktober 2021, dengan melibatkan 19 peneliti ahli dari kementerian dan lembaga riset di Indonesia.

Kolaborasi penelitian yang saling terkait dari tiap peneliti di Perairan Halmahera pada ekspedisi ini, menguak kekayaan bawah laut Indonesia, khususnya di Laut Halmahera, berupa gosong, gunung bawah laut, bukit bawah laut, dan biota bawah laut.

Baca Juga :   Jelang Buka Pariwisata, Pasien Positif C-19 Bali Meningkat, Gubernur Koster 'Kelimpungan'

Pelaksanaan ekspedisi berawal dari laporan Berita Pelaut Indonesia (BPI) Nomor 11/152 Tahun 1955 yang menyebutkan adanya kemungkinan pertumbuhan yang cepat di bawah air dengan radius 15 mil laut, membentang dari 129 07.9′ BT-1° 00′ LU dan 129° 54′ BT-0′ 18′ LU, dan BPI Nomor 26/206 Tahun 1959 yang menjelaskan adanya fitur bawah laut yang mendidih dengan radius nautikal mil, terletak 12 mil menuju 90′ dari Yiew.

Karena sudah berumur cukup tua, dua BPI itu butuh pembaruan data (informasi batimetri) guna mendukung peningkatan keselamatan pelayaran di Perairan Halmahera.

Inilah satu-satunya survei pemetaan di Pushidrosal yang berbentuk ekspedisi dan bertujuan untuk membangkitkan kembali kegiatan ekspedisi di Indonesia guna mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Beberapa hasil ekspedisi ini berupa gunung bawah laut, tinggian, dan cekungan, serta gosong
Gosong Aurora sebagai salah satu fitur bawah laut di lokasi penelitian- diambil sebagai nama ekspedisi.

Selain itu, sebaran sedimen bawah laut menunjukkan gambaran umum yang akurat setelah divalidasi dengan teknik grab sampling pada wilayah puncak gunung bawah laut.

Oseanografi fisiknya juga memiliki stratifikasi menarik, dengan ditemukannya massa air dari Samudra Pasifik Selatan. Hasil penelitian ini lebih lanjut dipresentasikan pada seminar internasional serta forum-forum internasional lainnya.

Pada Maret 2022, delapan fitur bawah laut hasil Ekspedisi Aurora diakui oleh UNESCO dengan nama-nama khas Indonesia, yaitu: 1. Bukit (Hill) “Yudo Sagoro: 2 Bukit “Spica”; 3. Bukit “Rigel”; 4, Bukit “Yiew Vero”; 5. Bukit “Moro Gada”: 6. Gosong (Bank) “Aurora”, 7. Gunung Laut (Seamount) “Moro Sagoro, 8. Gunung Laut “Gapuro Sagoro”. (*/E-49)

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya