Pemberdayaan Petani Kopi Kintamani. Koop Kopi: Petani Kopi Harus Sejahtera

31/05/2024 09:23
Array
Reza Fabiunus CEO PT. Koop Kopi Indonesia (Foto/Roland)
banner-single

DENPASAR – Jurnalbali.com –

Koop Kopi berkerjasama dengan Kementrian Koperasi dan The United Enviroment Programme (UNEP) berupaya untuk meciptakan ekosisitem pemberdayaan sampai dengan pemasaran agar terwujudnya petani kopi Kintamani yang sejahtarah. Hal itu menjadi titik fokus dari Koop Kopi. Reza Fabiunus selaku CEO PT. Koop Kopi Indonesia menyampaikan program pemberdayaan kopi permasalahanya bukan hanya soal kebutuhan modal tapi persoalan kompleks lainnya seperti perubahan iklim dimana jumlah pohon kopinya juga habis atau menurun, kesehatan pohon kopi dan petaninya menjadi terganggu. Akar masalah ini berkenaan dengan 17 sustainable development goals. Hal ini disampaikan olehnya saat acara “Ideas for Action” yang dihadiri oleh Mahasiswa Universitas Udayana di Kura-Kura Bali pada, 30 Mei 2024.

————-


Koop Kopi mendapatkan dana dari UNEF sebesar 1.125 USD untuk pemberdayaan petani kopi di desa Catur Kintamani, Kabupaten Bangli Bali.

“Semenjak itu kita melakukan berbagai kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Jadi petani tetap menjadi fokus perdagangan kopinya namun kami harus bertanggung jawab dengan dana tersebut memberikan manfaat dampak ekonomi, sosial dan lingkungan di sekitar wilayah Kintamani,” ungakp Reza Fabiunus CEO PT. Koop Kopi Indonesia atau Reza sapaan akrabnya.

Ia kemudian menjelaskan lanjut berkenaan dengan amanah Suitainable Development Goals (SDGS) untuk mengurangi efek rumah kaca. Koop Kopi mendapatkan dukungan dari kementrian koperasi melakukan UMKM Hijau. Salah satu hal yang dibuat adalah dengan mengelola limbah kulit kopi.

“Makanya tadi ada satu sesi bagiamana project koop kopi ini juga bisa memberikan perlindungan gas rumah kaca melalui karbon offsetting. Termasuk ada satu deputi juga kementrian koperasi memberikan dukungan dengan program yang namanya UKM hijau. Jadi UKM-UKM ini juga dengan dana yang sudah diberikan harus melek. Jadi tolong nanti limbah kulit kopinya jangan dijadikan sampah, harus diolah jadi pupuk yang bisa menyelesaikan masalah yang ada. Jadi sebenarnya tujuan dari pada program grand ini adalah menyelesaikan masalah secara bersama-sama dan khusus hari ini kita melibatkan mahaiswa sekaligus juga menyampaikan kepada teman media bahwa kita ini sudah jalan,” jelasnya.

Baca Juga :   Kendalikan Laju Inflasi, Pemprov Bali Akan Lakukan Operasi Pasar

Adapun tantangan lain dalam rangka pemberdayaan petani kopi Bali di Kintamani. Petani Bali hidup dalam filosofis agama dan kebudayaanya, sehingga dalam sebulan pentani kopi hanya mampu berkerja rata-rata hanya sepuluh hari.

“Menjadi seorang petani Bali yang lengkap dengan kultur filosofinya membuat mereka dalam 30 hari mungkin hanya bisa bekerja di kebun kopinya itu minimum sepuluh hari. Sisanya harinya mereka harus sibuk dengan kegiatan-kegiatan keagamaan,” ungkapnya.

Reza melanjutkan penjelasannya pendampingan Koop Kopi tentang cara merawat pohon kopi agar bisa menghasilkan kualitas kopi yang baik. Kopi itu makhluk hidup juga jadi harus diberi pupuk. Perlu ada perawatan mulai dari pengairan sampai pembersihan ranting-ranting pohon kopi.

Untuk itu perlu dibuatkan sebuah sistem yang khusus. Karena mengandalkan 10 hari berkerja sudah pasti kualitas akan merosot. Oleh sebab itu Koop Kopi merasa perlu melakukan intervensi lewat program pemberdayaan kopi. Salah satunya adalah memperhatikan nutrisi pada phon kopi.
“Nutrisi bisa di serap oleh pohon kopi kalau dia mendapat nutrisi yang tepat dan dengan cara yang pas. Sehingga ceritanya pupuk organik tadi. Nah untuk kearifan lokalnya dengan kepercayaan misalnya upacara keagamaan yang memuliakan tanah. Dari sisi lain seperti pengetahuan dalam memberikan solusi nutrisi ini kita juga jalan, salah satunya dengan cara melibatkan Mahsiswa yang memiliki jurusan yang sesui. Jadi ini menjadi intervensi antara kearifan budaya Bali degan bagaiman peran kami Koop Kopi dalam menjaga kualitas kopi Kintamani,” ungkap Reza.

Kemudian untuk pemasaran Kopi Kitamani sudah tembus sampai di Amerika, Eropa dan China. Karena banyak pembeli kopi tidak hanya mencari dan menikmati kopi. Mereka juga memastikan kopi yang mereka beli itu diolah dengan baik dan alamiah tanpa bahan kimia

Baca Juga :   Kreatifitas IKM Bali Bangkit Diapresiasi, Ini Kata Ketum Dekranas Hj. Wury Ma’ruf Amin

 

Penulis||Roland||Editor||Restin

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya