Menyingkap Prostitusi Terselubung Berkedok Tempat Pijat di Labuan Bajo, Berapa Uang yang Masuk Kantong Wanita Terapis?  (Bagian 3/Habis)

20/02/2021 01:02
Ilustrasi praktek transaksi prostitusi --- FOTO ist
banner-single

LABUAN BAJO Jurnal Bali.com

Penelusuran Wartawan Jurnal Bali.com terhadap praktek prostitusi berkedok rumah Pijat di seputar kota Labuan Bajo tidak hanya menyanggongi satu rumah Pijat. Ada sekitar tiga rumah Pijat yang sempat didatangi Jurnal Bali.com. Dari obrolan dengan para terapis ditemukan data yang mencengangkan. Penghasilan para terapis dari ‘bisnis lendir’ (sebutan lain untuk kencan dengan wanita pramuria) yang mereka geluti di Labuan Bajo luar biasa sensasional. Mereka rata-rata mampu meraup penghasilan 50 juta rupiah dalam sebulan.

——————–

Jika ada 10 orang saja terapis wanita yang buka praktek ganda, yaitu menjual jasa pijat sekaligus menjajakan ‘hubungan badan terlarang’ alias seks bebas, di Labuan Bajo, dengan mudah dapat dihitung, berapa nilai capital flight (pelarian modal-red) ke luar Labuan Bajo dalam sebulan. Kira-kira bisa mencapai 500 juta sebulan.

Baca Juga :   Menyingkap Prostitusi Terselubung Berkedok Tempat Pijat di Labuan Bajo (1)

Jika ada 10 tempat pijat yang beroperasi dengan modus yang sama, dan setiap rumah Pijat mempekerjakan 5 orang terapis saja, berarti ada 50 orang terapis seluruhnya. Dengan rata-rata penghasilan perorang perbulanan 50 juta rupiah sebulan maka, para wanita terapis di Labuan Bajo mampu menciptakan capital flight yang luar biasa, yaitu 2,5 miliar dalam sebulan alias 30 miliar rupiah dalam setahun. Wow…! Jumlah yang sangat cukup untuk mengaspal jalan sepanjang 100 Km lebih. Begitulah kira-kira.   

Praktek prostitusi adalah fenomena klasik kehidupan perkotaan. Baik secara terang-terangan maupun yang bermain dalam kegelapan. Labuan Bajo pun mungkin tak kan mampu mengelak dari invasi para wanita terapis plus seperti itu.

Pertanyaannya, berapa rupiahkah dari perkiraan total capital flight tersebut yang ‘menetes’ untuk pembangunan Manggarai Barat? Apakah mereka membayar pajak untuk setiap kali bertelanjang di atas ranjang bersenang-senang dengan para lelaki hidung belang?

Jurnalis : Sudah berapa lama kerja di sini mba?

Terapis : Aku udah 3 minggu di sini. Ya lumayan udah dapat hasil 42 juta lebih mas.

Menurut pengakuan Andien, tempat pijatnya sudah mendapat ijin. Jadi, para terapis tidak takut lagi kalau ada siapa saja yang datang. Menurut Andien, hanya wartawan yang ditakuti oleh kawan-kawannya dan Maminya (mucikari). Selain itu, pemilik tempat pijat bukanlah orang lokal melainkan orang dari luar NTT yang mengontrak rumah orang lokal.

Terapis : Maminya bukan orang sini Mas. Dia hanya ngontrak di sini. Kita ga bayar perbulan. Kalau ada tamu ya kita bayar 100 ribu untuk kamarnya. Maminya udah nikah. Dulu sebelum nikah, Maminya bisa main layani tamu. Sekarangkan udah jadi bos. Kalau di tempat pijat sebelah, Maminya bisa layani tamu. Teman teman kita juha udah banyak yang main di hotel. Mereka cari tamu dengan menggunalan aplikasi pertemanan.

Hampir 2 jam lamanya, Jurnal Bali menggali informasi dari Andien. Dengan berpura pura ada telpon penting dari kantor, Wartawan Jurnal Bali mohon pamit sambil menyerahkan uang 300 ribu.

Jurnalis : Mba maaf aku harus balik, orang kantor menelpon. Ini ambil aja uangnya 300 ribu ya, lain kali aja pijatnya.

Terapis : Oh gitu…ya ga apa apa Mas. Nanti kalau ke sini main sama aku ya.

Dari cerita Andien, Jurnal Bali.com mengantongi banyak informasi soal aktivitas esek esek berkedok tempat pijat di Labuan Bajo yang bertumbuh subur dan bebas. Pelanggan yang datangpun dari berbagai latar belakang profesi yakni dari kuli bangunan hingga pekerja kantoran.

Baca Juga :   Menyingkap Prostitusi Terselubung Berkedok Tempat Pijat di Labuan Bajo (Bagian 2)

Sebelumnya, salah satu media online lokal pernah merilis soal data pasien yang mengidap penyakit HIV di Labuan Bajo. Media lokal tersebut merilis data yang diperoleh dari dinas kesehatan Manggarai Barat. Dari data tersebut diperoleh fakta bahwa penyakit HIV lebih banyak dialami oleh pasien yang bekerja di tempat hiburan malam dan tempat pijat.

Apa langkah Pemkab Manggarai Barat untuk masalah sosial masyarakat tersebut? Apakah sudah cukup banyak orang menilai bahwa keberadaan tempat prostitusi di Labuan Bajo bisa mengancam nilai moral bagi anak anak. Selain itu, rentan dengan penularan HIV, AIDS, dan PMS lainnya? Just wait and see! —*/Rio

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya